Sabtu, 31 Agustus 2013

cintamu, Ibu

Sentani malam ini begitu dingin, baju kaos panjang dengan corak indian dan legging pink soft pun ga cukup menghangatkan perasaanku malam ini. Yang aku tau, aku rindu pelukan ibuku...
Mengapa begitu jauh perasaanku kali ini, menilik sedikit hatinya yang mungkin sulit ku baca. Dia begitu kesepian tanpaku, kelihatan sekali walaupun berusaha ditutupi. Aku semakin berdosa saja, melewati banyak ujian itu sendirian sedangkan aku sibuk dengan pekerjaan yang memang ingin kujalani ini. Tak ada yang bisa disalahkan, hanya saja bagiku, semuanya memang hanya harus dilakukan sesuai apa yang memang harus dilakukan. Tapi banyak hal yang sebenarnya ingin ku sampaikan padanya, aku sangat mencintainya, sampai matipun aku akan selalu mengingat janji sumpahku padanya, yang terekam jelas di waktu itu. Mungkin aku tidak bisa memberinya banyak uang seperti yang di lakukan mereka, aku tidak bisa terlalu sering menghubunginya, aku tidak pintar dalam merayunya, aku lebih sering membuatnya sedih karena ulahku, bahkan aku membiarkannya menangis di setiap tahun di hari lebaran, aku kelihatan begitu kejam, bukan?
Tapi itu aku ketika semua orang hanya melihatnya dari jauh, lebih jauh lagi dalam hatiku, aku selalu memikirkan kenapa aku selalu menyusahkannya, aku merinduinya setiap kali hidupnya waktu itu berat dan banyak ujian, aku merindui ketika kami melakukan banyak hal berdua, aku merindui hal yang tidak pernah dia dapat dari oranglain dan mengeluh padaku.
Tapi ibukku sekarang berusaha menutupi banyak hal yang terjadi di rumah, hal itu yang membuatku begitu jauh darinya. Dan terkadang aku berfikir bodoh dan menganggap dia tidak mencintaiku sebanyak dulu, sebanyak ketika tidak ada oranglain lagi yang dia perjuangkan kecuali aku.
Tapi tenang saja ibukku yang tegar, aku, anakmu...akan selalu berjuang hidup demi dirimu satu-satunya alasanku untuk tetap bangun setiap pagi, untuk tetap bangkit mencapai cita2ku, untuk tetap kuat menghadapi hidup yang terlalu banyak orang kejam disekitarku, untuk tetap tersenyum ketika aku merasa kesepian karena merindukanmu, untuk tetap percaya bahwa kita akan bahagia dan berada diatas dari orang2 yang pernah melukaimu, dan untuk tetap mengingat Tuhan-lah yang menyayangiku hingga aku bertahan sampai detik ini.
Karena ku sadari kini, aku tidak pernah menyesal dilahirkan olehmu, aku tidak pernah merasa tidak adil atas semua yang terjadi pada hidupku yang dulu, aku tidak pernah lagi membenci orang yang dulu pernah ku benci....Terimakasih ibukku, Margani, yang telah membesarkanku dengan cinta kasihmu. Terimakasih ibukku, yang tidak pernah meninggalkanku satu kalipun walau kau sudah begitu jauh di ujung jalan itu, yang mau menahan langkah pergimu hanya untukku walau ku tau hatimu sudah terlalu rapuh untuk menerima perlakuan orang yang menyakitimu.
Jangan pernah menangis lagi, ibukku. Karena sudah tidak ada lagi alasan untuk memecah keluarga kita, sudah tidak ada kepedihan lagi yang akan mengikutimu, karena akupun terlalu sakit setiap kali kau menerima ujian berat disana. Berjanjilah kau tidak akan mudah terluka seperti ketika masih bersamaku dulu. Berjanjilah aku tidak akan melihatmu sebegitu terpuruknya pada hari itu, hari dimana aku sudah menjadi gila karena kau hampir meninggalkanku dengan kondisimu yang sudah tidak berdaya, hari dimana aku tidak akan pernah lupa semua memori yang menyakitkan, titik dimana beberapa hari yang kulalui terlalu panjang dan menakutkan, setiap menit yang kulalui dengan perasaan putus asa dan pasrah, berjanjilah padaku itu kali terakhir kau menakutiku, Ibu. Entah apa artinya aku, tanpa adanya ibu, hanya itu yang ada dibenakku ketika kubayangkan kemungkinan terburuk yang kuterima, kemungkinan yang membuatku berfikir akupun akan ikut denganmu. Tapi itu dulu Ibu, kita telah begitu banyak melewati hari2 yang sulit, Tuhan tidak akan suka jika kita menyerah begitu saja, dan usahaku...aku tidak akan ku biarkan orang2 melukaimu lagi, kali ini ibu harus menang, harus!
Dan kata yang ingin aku ucapkan,
Terimakasih ibukku, yang memperjuangkanku untuk tetap hidup sampai sekarang.
Tunggu kakak ya, tunggu sedikit saja lagi. Kaka sedang belajar untuk memahami arti kehidupan agar bisa sempurna. Agar bisa melindungi ibu dari semua orang jahat, membahagiakan ibu dengan mewahnya kebahagiaan keluarga kita, hingga akhirnya semua orang iri melihat kebahagiaan keluarga kita, kaka akan melindungi ibu apapun yang terjadi nantinya.
Tunggu sedikit lagi ya, Ibu Margani.

Minggu, 18 Agustus 2013

Papua di tanggal 17 Agustus

Pagi ini, di Papua. Hari ini hari kita bukan??
Aku terlebih merasakan rindu dalam sepi, Suara yg ku dengar hanya udara yg mengalun beterbangan..
Aku tau, kami tidak ingin terlampau merayakan ini. Namun Papua adalah Papua, kami masih milik Indonesia.
Merdeka!!!!
Ku wakilkan lantunan kata demi kata ini dari kami untuk Indonesia.
Memang pun berbeda, jarak dan budaya. Tapi walaupun mereka keriting dan hitam, mereka bangga akan itu. Dan aku, aku bangga kini menjadi bagiannya.
Awalnya, begitu susah kuterima kenapa aku bisa berada disini bersama ribuan pendatang yang entah bersuku apa. Kehidupan yg ku pahami, ku menikmatinya setelah 3bulan kurang 2 hari disini.
Tuhan, maha karyaMu memang tak tertandingi.
Tuhan, begitu indah Papua ini, hamparan gunung, pantai dan danau yang tidak akan  bisa kulupakan sepanjang hidupku nanti. Dan akan aku ajak ribuan orang untuk datang dan menjadi saksi atas kebesaranMu Tuhan, pencipta dunia dan seisinya.
Dan, sekarang akan ku nikmati hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan caraku. Bekerja dan tanpa mengeluh, bersyukur dan tak ingin tamak. Segala sesuatunya, Tuhanlah yang mengaturnya.


Selamat Hari Kemerdekaan RI yang ke 58. Merdeka!!!!
 Merdeka!!!!
We Love You Indonesia



From :
Permanent Resident of Papua

Sudahkan Aku Dewasa?

Ku mulai perjalanan baru dalam hidupku, untuk kali pertama ku disebut "senior" sejak awal tahun 2013 di Cinere. Kemudian, rasa kekanak-kanakanku semakin pudar seiring berjalannya waktu. Tidak ada yang tidak bilang kalau aku ada orang paling emosional, haha...yang benar saja. Hampir setiap rutinitas baru yang kujalani aku tak pernah merasa kesal dan tidak ada sedikit perasaan utk minta diperhatikan lebih layaknya anak kecil kepada mamanya.
Dalam 3bulan kebelakangan di Cinere, aku menemukan segala jenis orang disana. Mungkin aku sedikit bisa memahami mereka sebagai anak muda, itu sebabnya banyak orang yg berkata aku trlalu memanjakan juniorku, tp semua cara yg ku pilih karna aku begitu mengenal keinginan mereka, itu saja. Mungkin aku sedikit sontak dengan beberapa yg tidak bisa saling melindungi, dengan beberapa yg suka membalas,dengan beberapa yg suka mengadu domba, dan kurang menghargaiku. Semua itu akan ku simpan menjadi bekal, hingga suatu saat aku akan sampai pada titik dimana aku membutuhkan semua itu untukku lebih tegar.
Ada yg pernah berkata padaku, bahwa menjadi tua itu pasti, dan menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Dan aku, aku akan mengambil pilihan itu.. Dengan ini, dengan seluruh usahaku, aku akan dikenang ketika aku menua dan mati.

Kamis, 15 Agustus 2013

Ingin Lebih Dekat DenganMu

Tuhan...
Kini aku hanya sepotong yg semakin menua
Yang akan semakin hilang bersama dosa dan harapan2 yang telah ku kumpulkan
Yang mungkin akan ku hitung dari mana kebaikan dalam diriku ini, dari aku menjadi baik? atau kala aku masih tamak dengan dunia?
Oh... hidup
Bersama ribuan doa yang kini baru bisa ku panjatkan kepadaMu,
Tuhanku, aku ingin lebih dekat denganMu, aku ingin Kau tunjukan semua hal baik yang bisa kulakukan di sisa umurku, aku pun juga ingin Kau tunjukan siapa yg bisa membawaku ke dalam surgaMu






Tuhan, bolehkan aku meminta kepadaMu, jodohkan aku kepada orang yg meminta jodohnya karenaMu. Dekatkan aku, pada ia yg selalu dekat kepadaMu, dan cintakanlah aku kepada ia yang mencintaiMu sepanjang hidupnya.
Dan aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya, bagi ia yg selalu berpasrah kepadaMu.